Kampung Pagal I adalah kampung masyarakat suku Desa yang terletak di Sungai Kenyabur yang bermuara di Sungai Pudau; Sungai Pudau bermuara di Sungai Tempunak yang merupakan anak Sungai Kapuas. Kawasan di sekitar kampung ini yang digunakan sebagai tempat aktivitas perladangan berpindah merupakan kawasan dataran kering bergelombang dan sebagian lagi merupakan kawasan hutan gambut. Hutan primer yang masih tersisa di sekitar Kampung Pagal I adalah hutan rawa gambut, namun aktivitas penanaman padi huma lebih banyak dilakukan  di  tanah-tanah  kering.  Hutan  rawa  gambut  yang  tersisa  dimanfaatkan sebagai tempat untuk mencari hasil hutan, seperti kayu untuk bahan bangunan dan rotan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Kampung ini dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Perusahaan kelapa sawit ini mulai membuka kawasan hutan pada tahun 1996.

Kampung Pagal I merupakan bagian dalam administrasi Desa Kenyabur Baru (Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat) (Profil Desa Kenyabur Baru, Maret 2011). Perbatasan desa ini dapat dilihat pada Tabel 1.1. Desa Kenyabur Baru terdiri dari lima dusun, yaitu Dusun Wono Rejo, Dusun Tegal Sari, Dusun Sumber Rejo, Dusun Kenyabur dan Dusun Pagal I. Letak kelima dusun itu dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Perbatasan Desa Kenyabur Baru.

Batas Desa/kelurahan Kecamatan Bahasa
Utara Pagal Baru Tempunak Desa
Selatan Riam Kijang Sg. Tebelian Desa
Timur Merarai Dua Sg. Tebelian Desa
Barat Repak Sari Tempunak Desa

 

Jumlah penduduk di Desa Kenyabur Baru sebanyak 1.342 orang yang terdiri dari 728 orang lelaki dan 614 orang wanita. Mayoritas masyarakat di desa ini adalah suku Jawa, yaitu seramai 960 orang disusuli dengan suku setempat seramai 429 orang dan suku Madura seramai 8 orang. Orang Jawa dan Madura menempati Dusun Wono Rejo,  Dusun  Tegal  Sari  dan  Dusun  Sumber  Rejo,  sedangkan  orang  suku  lokal menempati Dusun Kenyabur dan Dusun Pagal I.


Gambar 1. Peta Desa Kenyabur Baru.

Jumlah penduduk khususnya Pagal I pada tahun 2012 mencapai 221 orang yang mendiami 54 buah rumah. Persebaran umur dan jenis kelamin penduduk Pagal I dapat dilihat pada Gambar 2.7. Sebanyak 60 persen penduduk Pagal I berumur 30 tahun ke bawah. Juga perlu dicatat bahawa terdapat 16 orang bukan suku Desa yang menikah dengan masyarakat Desa di Pagal I dan menetap di kampung ini. Perhitungannya seperti berikut: empat orang wanita suku Linuh, seorang lelaki dari Nusa Tenggara Timur, dua orang lelaki dan enam orang wanita suku Seberuang, seorang wanita suku Mualang dan dua orang lelaki suku Jawa. Dari 52 jumlah pasangan nikah, sebanyak 30,8% pasangan itu merupakan kawin “campur” karena suami atau isterinya bukan berasal dari suku Desa.


Gambar 2. Persebaran umur dan jenis kelamin penduduk Pagal I.

Namun demikian, orang Seberuang (8 orang) dan Mualang (seorang) yang kawin dengan suku Desa di Kampung Pagal I sebenarnya penutur bahasa Ibanik yang dekat  hubungannya  dengan  bahasa  Desa.  Bahasa  Desa,  Seberuang  dan  Mualang adalah bahasa yang masih saling dimengerti oleh penutur masing-masing, walaupun dialeknya dan terdapat sebagian kosa-kata yang berbeda. Bahkan, dua orang Jawa yang menikah dengan penduduk setempat menggunakan bahasa Desa dalam berinteraksi dengan penutur bahasa Desa.

Desa  Kenyabur  Baru  berjarak  40  km  dari  ibu  kota  kabupaten  yaitu  kota  Sintang. Fasilitas pendidikan yang ada di desa ini adalah sebuah SD Negeri No. 16 Tempunak dan sebuah SMP Negeri 7 Tempunak. Sekolah dasar itu didirikan pada tahun  1982/1983,  ketika  petani  dari  Pulau  Jawa  ditempatkan  oleh  pemerintah Indonesia di kawasan ini dalam program transmigrasi. Sebelum itu, SD yang paling dekat  terletak  di  Kampung  Kenyieng  (sekarang  dikenal  sebagai  Pagal  II)  yang jaraknya 8 km dari Rumah Panjang Engkeladan (lokasi asal yang kemudian menjadi Pagal I). Untuk sampai di SD itu, siswa terpaksa menyeberang Sungai Pudau dengan perahu dan berjalan kaki. Pada tahun 2009/2010 di Desa Kenyabur Baru dibangun SMP. Sebelum itu, siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMP harus ke SMP I Negeri Sungai Tebelian yang jaraknya sekitar 7.8 km dari kampung mereka. Berdasarkan data yang diperoleh dari penduduk Pagal I yang berjumlah 221 orang, pada Agustus tahun 2012 masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar sebanyak 126 orang, sekolah menengah pertama seramai 37 orang, sekolah menengah atas seramai 18 orang, sedangkan yang sudah belajar di perguruan tinggi seramai 5 orang.

Selain fasilitas SD dan SMP, terdapat juga sebuah klinik kesehatan yang dilayani seorang mantri dan seorang bidan pemerintah. Ada juga empat orang bidan tradisional di Kampung Pagal I. Sejak tahun 2002, kampung ini dialiri listrik sehingga hampir setiap rumah dilengkapi dengan TV dan parabola.

Kota Sintang terletak kira-kira 40 km dari Kampung Pagal I. Dari kampung itu, warga harus menempuh jalan tanah merah sepanjang 26 km sebelum bertemu dengan jalan beraspal. Jalan tanah merah itu dibangun oleh perusahaan kelapa sawit untuk pengangkutan buah kelapa sawit ke pabrik. Penduduk Kampung Pagal I memanfaatkan  jalan  perusahaan  itu  dengan  mengendarai  sepeda  motor.  Pada  54 rumah di kampung itu, terdapat sekurang-kurangnya sebuah sepeda motor, bahkan ada yang dua atau tiga buah. Terdapat dua buah mobil pribadi di kampung itu. Selain menggunakan sepeda motor, untuk sampai di kota Sintang, warga juga menggunakan dua buah kendaraan pengangkutan umum (oplet) dengan tambang perjalanan Rp.15.000/orang.

Di Desa Kenyabur Baru terdapat sebuah masjid, enam buah surau, sebuah gereja Protestan dan dua buah gereja Katolik. Di desa itu, 69% penduduk beragama Islam; hampir semuanya keluarga transmigran. Penduduk lain yang sebagian besarnya penduduk suku Desa setempat beragama Katolik (18%) dan Protestan (13%). Masjid dan semua surau terletak di kawasan transmigrasi yaitu di Dusun Wono Rejo, Dusun Tegal Sari dan Dusun Sumber Rejo (lihat Gambar 1). Gereja Protestan didirikan di dusun Kenyabur yang dulunya berupa kampung suku Desa. Sebuah gereja Katolik terdapat di Dusun Kenyabur dan sebuah lagi terdapat di Kampung Pagal I.

Sumber pendapatan utama penduduk di desa Kenyabur Baru adalah pertanian dan  perkebunan.  Masyarakat  suku  Jawa  di  desa  ini  mengusahakan  tanaman  padi sawah, kelapa sawit dan karet. Penduduk lokal pula mengusahakan padi ladang berpindah, kelapa sawit dan karet. Dilaporkan oleh penduduk setempat bahwa hampir 60 persen kebun kelapa sawit dimiliki oleh transmigran. Di Kampung Pagal I, hanya terdapat dua keluarga yang tidak mengerjakan ladang berpindah. Tiga puluh satu keluarga di kampung itu memiliki kebun kelapa sawit, sedangkan semua keluarga memiliki kebun karet.

Sebelum tinggal di 54 buah rumah seperti sekarang ini, masyarakat Kampung Pagal I tinggal di rumah panjang8 Sungai Engkeladan. Rumah panjang itu yang terdiri dari 13 “pintu” didiami selama kurang-lebih 23 tahun9. Sebelum tinggal di rumah panjang Sungai Engkeladan masyarakat ini tinggal di rumah panjang Jaung, yang terdiri dari 10 buah pintu saja. Dinamakan rumah panjang Jaung karena terdapat banyak pohon jaung (Pholidocarpus majadum Becc.) di sekitar rumah panjang itu dan sebagian besar atap rumah panjang itu menggunakan daun jaung. Rumah panjang itu didiami selama kurang-lebih 20 tahun. Rumah panjang sebelum itu adalah rumah panjang Nusa yang ditempati selama kurang-lebih 34 tahun dengan 13 pintu (Gambar 3). Ketiga rumah panjang itu dibangun di tempat-tempat yang berbeda, tetapi tetap di sekitar kawasan pertanian Kampung Pagal I ketika ini. Kawasan rumah panjang yang telah ditinggalkan disebut tembawang [təmawai]. Biasanya hutan bekas rumah panjang masih bertahan sampai sekarang karena dianggap keramat dan tidak boleh dijadikan lokasi ladang berpindah. Menurut informan di Pagal I, orang suku Desa yang berada di kawasan sungai Tempunak sekarang ini berasal dari daerah Bukit Kelam di Tembawang Sengitau.

Dahulu, nama Kampung Pagal I adalah Kampung Sepan. Nama itu berubah karena penduduk kampung ini pernah membendung Sungai Nyala (anak Sungai Kenyabur) untuk menangkap ikan tapah; maka nama kampung ini dikenal sebagai Sepan Pagal karena pagal bermakna bendungan. Adapun penggunaan nama kampung Pagal I dan Pagal II terjadi ketika kedua kampung itu berpisah dari rumah panjang Jaung.

Dengan datang program transmigrasi pada tahun 1982, terjadi perombakan struktur administrasi baru. Kampung Pagal I bergabung dengan Kampung Kenyabur dan juga kawasan perumahan transmigran untuk membentuk Desa Kenyabur Baru. Pada tahun 1982, seramai 250 keluarga transmigran dari Pulau Jawa tiba di kawasan ini. Pada waktu itu, hanya tujuh keluarga masyarakat suku Desa Kampung Pagal I yang bersedia mengikuti program transmigrasi. Menurut seorang informan yang berusia 70 tahun, kebanyakan orang Desa tidak mau meyertai program itu, karena masyarakat setempat beranggapan bahwa jika mereka tinggal dengan masyarakat transmigrasi,  lama-kelamaan  mereka akan  menjadi  orang Jawa dan  apabila orang Jawa kembali ke Pulau Jawa mereka akan dibawa pulang. Malahan, ketujuh keluarga yang mengikuti program transmigrasi pada tahun 1982, 1-2 tahun berikutnya mereka pindah kembali ke rumah panjang. Rumah panjang itu mulai ditinggalkan pada tahun 1996 dan dikosongkan secara keseluruhan pada tahun 2001.


Gambar 3. Sejarah 80 tahun perkampungan komuniti Pagal I.

Selama 30 tahun komunitas Kampung Pagal I sudah mengalami berbagai perubahan sosial dan ekonomi. Kedatangan para transmigran yang hampir lima kali lebih banyak dari jumlah penduduk suku Desa di kampung itu.   Kehilangan 80% hutan di kawasan mereka karena beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Peningkatan fasilitas sekolah, kesehatan, pengangkutan dan komunikasi. Perpindahan dari rumah panjang ke 54 rumah keluarga tunggal. Namun, selain semua perubahan yang melanda masyarakat kecil ini masih belum diperhatikan perubahan sosial lain yang tidak kurang pengaruhnya.

Seperti yang dinyatakan Naerssen (1950-1951) walaupun penginjil Protestan dari Jerman dan Amerika Serikat pernah berusaha meyakinkan orang Desa untuk memeluk agama mereka, namun 60 tahun lalu hampir semua orang Desa tetap mengikuti kepercayaan dan amalan tradisional. Tidak lama kemudian, sewaktu komunitas Pagal I masih tinggal di Rumah Panjang Nusa, sekali-sekali pastor Katolik dari  Sintang  mulai  berkunjung.  Menurut  informan  yang  diwawancarai  pada  25 Agustus  2012,  pada masa  itu  belum  diadakan  kegiatan  intensif  seperti  upacara sembayang agama Katolik.

Agama  Katolik  hanya  mulai  disebarkan  secara  intensif  ketika  di  rumah panjang Sungai Engkeladan, dengan adanya pemimpin umat yang dilantik dan juga didirikannya sebuah gereja kecil pada tahun 1982. Bahasa yang digunakan di dalam ritual Katolik adalah bahasa Indonesia. Rumah panjang Sungai Engkeladan sendiri terletak di bawah pelayanan pusat Katolik yang ada di kampung Pangkaluang yang berada di tepi Sungai Tempunak. Sekarang hampir semua penduduk Kampung Pagal I beragama Katolik, sehingga kampung itu memiliki gereja sendiri.

Penganutan agama Katolik bukan saja membawa masuk ritual baru, tetapi juga berangsur-angsur  berdampak  kepada  adat  dan kepercayaan  tradisional.  Pertama, bahasa Indonesia telah menggantikan bahasa Desa sebagai bahasa utama dalam ritual keagamaan.  Kedua,  beberapa  ritual  tradisional  sudah  dilarang.  Adat  mendirikan patung kayu di depan rumah panjang yang dianggap melindungi rumah panjang dan penghuninya serta pendirian pentik, dilarang oleh pastor Katolik karena dianggap sebagai pemujaan berhala. Begitu juga, pemimpin agama setempat yang dilantik untuk membimbing   umat   Katolik   melarang   warga  kampung   mengamalkan   budaya sengkelan, yaitu ritual pemberkatan yang menggunakan darah ayam atau babi. Walaupun di kampung ini masih terdapat dua orang semanang yang mempertahankan kepercayaan dan amalan tradisionalnya, pada keseluruhannya sistem ritual dan amalan pantang larang yang dicatat oleh Naerssen (1950-1951) 60 tahun lalu sudah mulai lenyap.